SELAMAT DATANG

T
erima kasih Anda telah mengunjungi Grafikologia.

Grafikologia menyajikan menu bergizi seputar dunia desain grafis: ada teori desain, gambar, tipografi, strategi komunikasi, konsep visual, retorika visual, budaya visual, strategi media, membahas/memajang karya para mahasiswa dan tak lupa sedikit tips desain. Selamat menikmati grafikologia!

salam saya,

Rene Arthur
Tampilkan postingan dengan label pokok pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pokok pikiran. Tampilkan semua postingan

7.10.09

DKV: APA, MENGAPA & BAGAIMANA(1)




Desain Komunikasi Visual atau yang lebih akrab disapa dengan Desain Grafis dewasa ini begitu besar  peran dan pengaruhnya di tengah masyarakat. Mengapa demikian?
Jawabannya ternyata tidak terletak pada selera orang banyak atau trend jaman saja, tetapi ada jawaban yang lebih mendalam. Tulisan ini mengajak anda menelusuri desain grafis sampai ke akar-akarnya, sejak dari awal peradaban hingga masakini dan juga menyangkut hakekat komunikasi (visual) itu sendiri.

11.5.08

  • The Media is the most powerful entity on earth. They have the power to make the innocent guilty and the guilty innocent, and that's power. (malcolm X)

6.5.08

Visualisasi 5W1H

Desainer grafis akrab dengan riset. Maksudnya sebelum ia mendesain ia melakukan riset tentang apa yang ia garap, apapun proyeknya. Ketika harus mendesain logo Bank, terlebih dulu ia melakukan riset antara lain bagaimana image orang selama ini terhadap bank, kelemahan logo lama, siapa konsumen bank, dari kalangan mana, ini antara lain pertanyaan riset yang ia lakukan. Demikian halnya ketika ia harus mendesain web site, mendesain brosur, mendesain signage, dll. Riset bisa sederhana atau kompleks. Dalam riset 5w1h adalah alat batu yang sangat berguna. Pertama, untuk melihat suatu permasalahan secara utuh.

23.4.08

Hegemoni Visual Komputer

Landskap kota kita di Indonesia sekarang sedang berubah. Dari papan iklan tradisional ke papan iklan computerized. Gambar, tipografi, layout mulai diambil alih komputer. Iseng iseng anda boleh menebak berapa papan nama rumah makan yang terkena sentuhan komputer di satu pusat pertokoan. Tampaknya komputer mulai 'take over' semua penampilan visual,

14.4.08

Grafikota 7: Pendekatan Desain Grafis:Gagasan Awal



Seni rupa kota itu bukan hanya arsitektur, pertamanan, monumen atau tata kota saja, tetapi juga desain grafis. Berbicara tentang Desain grafis dikota bukan hanya bicara tentang iklan yang bertebaran dipelbagai sudut kota, tatapi berbicara tentang bagaimana peranan desain grafis di suatu kota. Ada satu cabang seni rupa yang sering terlewatkan dari pembahasan seni rupa kota,

13.4.08

Grafiskota 6: Usul untuk Pendidikan Desain grafis



Pendidikan desain grafis selama ini mengabdi pada dunia industri.Lihat saja kiblat tema tema proyek Branding dan Logo di sekolah desain grafis. Sehingga di otak mahasiswa desain grafis terpatri seolah-olah proyek yang benar benar grafis adalah proyek yang terkait erat dengan roda perekonomian. Semakin besar fee proyek semakin bergengsi. Brand-brand terkemuka menjadi idaman garapan para desainer. Desainer punya kebanggaan besar bila portofolio

Grafikota 5: Perlunya Desainer Grafis Kota

Desainer grafis amat dibutuhkan kota. Memang di kota telah banyak bertebaran para perancang grafis bekerja sebagai desainer kemasan, iklan, kaos, signage, poster, brosur Yang bekerja di sektor industri. Namun belum terdengar desainer grafis yang bekerja dalam konteks penataan grafis perkotaan. Sudah saatnya pengelola kota menggaji desainer grafis untuk menata iklan-iklan yang bertebaran. Selain itu

Grafikota 4:Problema Polusi Visual, Udara dan Mental


Dewasa ini kota menghadapi polusi visual. Tempat- tempat strategis dapat dibanjiri iklan , awalnya bermaksud memberi informasi tapi akhirnya yang terjadi berteriak tak terkendali sehingga yang terjadi hanyalah ”noise”(polusi visual). Akibat lainnya adalah rusaknya pemandangan kota . Arsitektur yang indah tenggelam dalam riuh rendah iklan. Bahkan pohon

Grafikota 3:Fungsi Desain Grafis Kota

Papan nama toko, billboard iklan, nama jalan, rambu, marka jalan, memiliki peran penting dalam komunikasi kota. Bayangkanlah kota bergedung indah, jalan dan taman yang cantik namun tanpa penunjuk rambu dan identitas toko. Kota tanpa desain grafis hanya menghasilkan disorientasi, chaos, hilangnya identitas dan unsur manusiawi pada kota. Tulisan ini mencatat paling tidak ada 3 fungsi: Fungsi pertama adalah orientasi, media grafisnya adalah peta, grafis penanda lokasi, rambu jalan, dsbnya. Tanpa ini orang mudah tersesat dan kehilangan rasa aman. Kedua adalah ketertiban: Rambu lalin, sistem agar kota dikenal idengan mudah. Tanpa ini kota akan menjadi kacau dan anarkis. Ketiga adalah identitas: Selain informatif media desain grafis juga dapat memberi ciri khas kota. Grafis kota harus harus menata secara terencana namun juga memberi ruang bagi spontanitas publik. Spontanitas yang berlebihan akan menimbulkan polusi visualKeempat, sebagai penyemarak lingkungan. Desain grafis dalam bentuk elemen estetik atau supergraphics dapat mengangkat lingkungan dan menghidupkan bangunan yang kurang menarik atau memanusiakan lingkungan yang kurang manusiawi.

Grafikota 2:Elemen Pembentuk

Apa saja elemen Desain Grafis pada kota? Dalam tulisan terdahulu telah disebut iklan dan papan nama toko. Namun ini baru sebagian dari grafis kota. Mari kita telusuri. Begitu seseorang keluar dari gerbang rumahnya, mulailah ia bersentuhan dengan desain grafis kota. Sebagai pengendara motor atau mobil dijalan ia setiap hari berhadapan dengan aneka rambu lalu lintas, kemudian ada zebra cross, ada marka jalan. Kemudian ada nama-nama jalan yang biasanya kita abaikan, kecuali bila kita berada di daerah baru dan sedang mencari alamat seseorang. Di kota kita juga melihat desain grafis mengelompokkan zona zona tertentu, seperti Kompleks Perumahan Taman Mutiara, Perumahan Fajar Raya, Bandung Indah Plaza, Mal Taman anggrek, Kebun Binatang dan universitas. Keluar kotapun ia akan nertemu dengan tanda kota yag dicoret yang berarti telah meninggalkan area kota tersebut. Pemandangan grafis ini masih dibuat lebih kompleks lagi karena di kota ada Pedagang yang memanfaatkan media modern adapula pedagang yang memanfaatkan media tradisional. Ada komunikasi visual dari pertokoan adapula komunikasi visual dari gerobak dorong tukang bakso, tukang rujak dipinggir jalan. Selain itu, satu lokasi bisa memancarkan 2 kondisi karena perbedaan siang atau malam. Bila siang hari suatu lokasi mengandalkan grafis warnawarni dari cat dan berbagai bentuk huruf dan gambar maka malam hari lampulah yang memegang peranan penting (neon sign, sorot lampu).

Grafikota 1: Desain Grafis sebagai Bagian dari Seni Rupa Kota

Kota yang kita huni dapat kita nikmati sebagai suatu karya seni rupa raksasa. Berbicara tentang seni rupa kota biasanya orang membahas arsitektur , taman(landskap), monumen/patung(sculpture) dan tata kota(planologi). Ada satu cabang seni rupa yang sering terlewat, yakni desain komunikasi visual/desain grafis kota. Kehadiran desain grafis biasanya dianggap sebagai kosmetik atau bumbu penyedap lanskap kota dalam bentuk papan iklan atau neon sign penyemarak suasana.. Memang telah banyak buku grafis membahas iklan kota, namun umumnya iklan /desain grafis dibahas terpisah dari kota secara utuh. Padahal Desain grafis merupakan unsur yang terpadu dengan cabang seni yang disebut terdahulu. Gedung yang arstistik dari segi arsitektural akan kurang lengkap bila tidak mempertimbangkan segi desain grafis. Papan nama atau sign system yang tak didesain dengan baik langsung akan menghancurkannya. Atau katakanlah perancang gedung telah sadar akan pentingnya desain grafis. Jadi ia menggunakan desainer grafis ternama untuk membuat logo dan sign system gedungnya. Namun inipun belum cukup karena lingkungan sekitar gedung dapat dengan mudah merusaknya melalui polusi visual. Jadi, desain grafis, arsitek, penata kota harus bahu membahu bekerja sama, karena mereka harus melihat karya mereka dalam konteks menyeluruh, yakni bagian dari karya seni rupa raksasa, yaitu kota.

19.11.07

Terapi visual/rupa

Karya desain grafis dapat bersifat terapi visual. Apa maksudnya? Kita tidak berbicara tentang terapi seni bagi pasien RSJ. Bukan juga desain grafis bagi penderita sakit jiwa.
Yang dimaksud adalah, suatu karya grafis dapat memberi efek terapi bagi masyarakat.
Karena masyarakat kita tidak hanya butuh desain grafis yang estetik, etis dan fungsional saja. Tetapi desain grafis yang memulihkan hati melalui mata.
Dewasa ini kita hidup ditengah dunia yang sarat kekerasan yang membuat hati nurani menumpul dan kurang peka. Indikasinya banyak, dalam skala nasional adalah berlarutnya penuntasan korupsi , ketidakpedulian pejabat terhadap rakyat tertindas, sedang dalam skala personal............. (silakan isi). Padahal telah beribu kotbah dan nasehat telah didengungkan, namun seolah angin lalu.
Desain grafis dapat berperan di tengah kondisi ini. Misalnya dalam menanggapi kasus korupsi. Desain grafis dapat berperan dengan membuat poster anti korupsi. Pesan yang yang disampaikan melalui visual tidak sekedar komunikatif dan persuasif. Tetapi bisa juga dekonstruktif/membuka perpektif baru/meyingkapkan. Sehingga orang tidak sekedar tertarik dan memahami pesan, tetapi juga melihat dirinya dalam perspektif baru/segar. Grafis desain dapat memberikan gambaran tak terduga mengenai suatu masalah, atau sudut pandang lain, atau.........pendeknya teks dan image di sini bak pisau bedah laser yang meyayat bagian terdalam hati. Barangkali akan timbul pertanyaan, gambar seperti apa yang mampu demikian? Jawabannya adalah relatif, tidak semata tergantung gambarnya, karena desain grafis juga bukan semata perkara gambar/teks indah, tetapi masalah ketepatan:
Strategi yang tepat,
gambar yang tepat,
pada saat tepat,
melalui media yang tepat
dan di tujukan kepada
orang/target yang tepat.
(Catatan : sebenarnya ini esensi semua desain grafis bermutu, namun disini hendak ditekankan pentingnya perspektif terapirupa dalam mendesain)

5.11.07

Desain Grafis vs Desain Komunikasi Visual?

Dewasa ini paling tidak ada 2 kubu:Pertama, yang mempertahankan istilah desain grafis.Kedua, yang menggantinya dengan istilah desain komunikasi visual (DKV). Alasannya istilah desain grafis itu lahir di era kejayaan media cetak/ print-graphics, sedang kini kita telah memasuki era digital /motion graphics/multimedia. Jadi kita perlu istilah baru, Desain Komunikasi Visual sebagai "payung"dariprint, environmental, packaging, motiongraphics. Demikian kira-kira argumentasi kubu ke dua. Ternyata masalahnya tidak sesederhana itu, walaupun pendapat kubu keduadi sahkan oleh ICOGRADA, masih ada banyak pihak yang tidak sependapat. Ini dapat dilihatdi forum-forum diskusi internet dan beberapa literatur. Ternyata pihak kedua memiliki argumen yang tak kalah kuatnya.Tampaknya kita tak perlu ikut masuk ke dalam perdebatan berkepanjangan antarake dua kubu di atas. Sikap kita adalah lihat saja realita. Bahasa diciptakan untuk di-gunakan manusia. Buat apa istilah keren tapi cuma jadi hiasan kamus belaka.Realita keseharian adalah orang tetap memakai menggunakan istilah desain grafis/desainer grafis dalam percakapan, stationary dsbnya. Mungkin karena enak kedengarannya.Lucunya, secara bersamaan istilah DKV juga dipakai. Jadi jangan heran kalau mendengar"saya masuk jurusan DKV' tetapi dikartu namanya tertera graphic designer. Istilah Desain Grafis dan DKV memang tak perlu dipertentangkan.Grafis (graphein) berarti goresan/torehan di atas suatu permukaan.Hasil torehan ini bisa berujud huruf, bisa juga gambar. Jadi lebih lanjut grafis berarti juga citra atau aksara.
Sejak purbakala manusia telah membuat torehan di dinding batu, di pasir, di atas gerabah, bahkan di atas kulit tubuhnya sendiri.
"Sejak purbakala manusia telah
membuat torehan di dinding batu,
di pasir, di atas gerabah,
bahkan di atas kulit tubuhnya sendiri"
Akhirnya torehan/guratan yang dibuat pada permukaan berkembang dari gambar >piktogram>ideogram lalu menjadi aksara. Torehan mulai berkembang di atas perkamen, tembok, dan kertas. Dan yang mengagetkan adalah torehan gambar dan huruf yang dibuat pada umumnya berfungsi komunikasi visual. Jadi bukan dalam pengertian lukisan atau fine art seperti yang kita kenal sekarang. Phillip B. Meggs dalam bukunya History of Graphic Design memberikan contoh-contoh yang menarik tentang hal ini. Saat fotografi ditemukanpun, prinsip toreh/grafis inipun tak lenyap. Klise foto/kertas foto bersalut zat kimia peka cahaya di toreh oleh garis garis cahaya yang masuk melalui lensa kamera. Mungkin karena itulah ia di sebut foto(cahaya) grafi/grafis(torehan): menoreh atau menggambar dengan cahaya.
Ketika era digital memasuki kehidupan kita, prinsip toreh inipun tetap berlangsung. Gambar dan Huruf yang terproyeksikan di layar komputer inipun dihasilkan dari torehan program digital pada disket atau cakram. Pada era digital prosesnya menggunakan teknologi. Gambar yang kita ingin rekam harus dikonversi menjadi data digital yang di rekam diatas disket/cakram. Selanjutnya jika ingin dibaca kembali pada kesempatan lain, ia harus dapat dibaca kembali dengan baik. Jika permukaan disket/cakram cacat karena tergores atau terkena jamur, maka gambar tidak timbul di layar. Keistimewaan media penyimpan digital dibanding dengan media penyimpan analog (buku, flyer,sertifikat) adalah kapasitasnya yang dapat menyimpan data ratusan, bahkan ribuan kali lipat. Semua contoh di atas termasuk graphein/grafis. Bedanya hanya pada proses. Ada yang berproses secara langsung dan ada yang tak langsung. Demikianlah desain grafis, ia menoreh/menggurat/menggoresyang ditoreh bisa berupa citra dan aksarapada suatu permukaan tertentu, (batu, kayu, kulit, kertas atau piring magnetik)dengan perantaraan aneka alat (ranting,cat, kuas, pena, pensil, cahaya). Dengan pemahaman ini maka pengertian istilah Desain Grafis bisa menjadi seluas DKV.